Ekonomi

Nilai Ekspor Batu Bara Kaltim dalam Lima Bulan Rp 116 Triliun, Setara Bangun 116 Jembatan Kembar

person access_time 2 years ago
Nilai Ekspor Batu Bara Kaltim dalam Lima Bulan Rp 116 Triliun, Setara Bangun 116 Jembatan Kembar

Angkutan batu bara di Sungai Mahakam (foto: arsip kaltimkece.id)

Harga batu bara menggila sepanjang Juni-Oktober 2021. Nilai ekspor emas hitam pun melonjak drastis.

Ditulis Oleh: Muhibar Sobary Ardan
Jum'at, 03 Desember 2021

kaltimkece.id Harga batu bara dunia yang terbang ke angkasa sejak Juni 2021 menyebabkan ekspor Kaltim meningkat tajam. Dari sektor pertambangan saja, ekspor batu bara Kaltim diperkirakan menembus Rp 116 triliun dalam kurun Juni hingga Oktober 2021. Nilai ekspor batu bara ini meningkat 243 persen atau dua kali lipat lebih dibanding kurun yang sama pada 2020.

Ekspor emas hitam yang naik tajam disebabkan harga batu bara yang menggila sejak pertengahan 2021. Merujuk bursa ICE Newcastle, harga rata-rata sepanjang Juni 2021 adalah USD 115,25 per ton, Juli 2021 (USD 143 per ton), Agustus 2021 (USD 152 per ton), September 2021 (USD 181 per ton) dan Oktober (USD 221 per ton).

Terus melonjaknya harga berbanding lurus dengan ekspor emas hitam. Menurut publikasi Badan Pusat Statistik Kaltim, nilai ekspor batu bara Kaltim pada Juni 2021 sebesar USD 1.415 juta, sedangkan pada Oktober 2021 sudah menembus USD 2.121 juta. Kenaikan ekspor batu bara bulanan dapat dilihat di infografik berikut.  

_____________________________________________________INFOGRAFIK

Total ekspor batu bara Kaltim sepanjang Juni 2021 hingga Oktober 2021 mencapai USD 8.321 juta atau sekitar Rp 116 triliun (kurs Rp 14.000 per USD). Besar nilai ekspor ini setara dengan biaya pembangunan 116 Jembatan Mahkota IV (Jembatan Kembar). Nilai ekspor tersebut juga berbanding jauh dibanding kurun yang sama pada tahun terdahulu. Pada Juni 2020 hingga Oktober 2020, nilai ekspor batu bara Kaltim hanya USD 3.416 juta atau sekitar Rp 47,82 triliun.

Adapun rata-rata andil komoditas batu bara terhadap total ekspor Kaltim menyentuh 70-an persen. Sementara negara tujuan ekspor terbesar adalah Tiongkok, diikuti India, Filipina, Jepang, Malaysia, dan Taiwan.

Kepada kaltimkece.id, Ketua Asosiasi Pengusaha Batu Bara Indonesia (APBI) Samarinda, Eko Priyanto, mengatakan, menggilanya harga batu bara dunia sedikit teredam. Penyebabnya adalah pertemuan COP-26 awal November 2021 yang menghasilkan komitmen mengurangi konsumsi batu bara. Di samping itu, kondisi politik Tiongkok dan Australia yang membaik turut membantu penurunan harga batu bara.

"Kalau dilihat dari faktor di atas, harga akan kembali normal. Kemungkinan berlangsung lima hingga 10 tahun," tutur Eko kepada kaltimkece.id. Kurun waktu tersebut berlandaskan dari fakta bahwa transisi sumber energi dari batu bara ke energi yang lebih bersih memerlukan waktu panjang. Pengusaha batu bara sudah menyadari kondisi itu.

Meningkatnya nilai ekspor batu bara Kaltim juga tidak lepas dari kecermatan pelaku industri pertambangan. Pengusaha disebut memanfaatkan momentum harga dengan menaikkan produksi. Kebijakan pemerintah menambah kuota ekspor emas hitam turut melapangkan jalan peningkatan nilai ekspor. Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menerbitkan Keputusan Menteri (Kepmen) Nomor 66.K/HK.02/MEM.B/2021 pada April 2021. Kuota ekspor batu bara naik dari 550 juta ton menjadi 625 juta ton.

_____________________________________________________PARIWARA

Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim, Darmansjah, membenarkan hal tersebut. Peningkatan nilai ekspor Kaltim disebabkan harga batu bara pada kurun tersebut tinggi. Permintaan dari negara tujuan ekspor seperti Tiongkok juga naik untuk menghidupi sektor industri. Kendati demikian, BI Kaltim menilai, permintaan batu bara turun dalam beberapa waktu ke depan.

"Sektor pertambangan mungkin masih bisa menopang perekonomian Kaltim dalam jangka pendek. Permintaan batu bara diperkirakan cukup solid. Akan tetapi, jangka panjangnya jika kita tidak mampu lepas dari kebergantungan batu bara, kinerja perekonomian Kaltim berisiko terjatuh," ingat Darmansjah.

BI menyarankan, Kaltim harus terus mendorong upaya hilirisasi sumber daya alam. Satu di antaranya dengan membangun industri pengolahan berbahan baku batu bara dan crude palm oil. Sektor-sektor ini dapat didiversifikasi menjadi sektor ekonomi unggulan termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah. (*)

Editor: Fel GM

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar